Dilli, 22 Agustus 1999
Setelah 23 jam menunggu di peraiaran Dilli, akhirnya jam 1 siang, KRI Teluk Cirebon yg membawa rombongan sekitar 300 observer dalam negeri untuk Jajak Pendapat TimTim akhirnya merapat juga ke Dermaga. Panas, gersang dan misteri langsung terasa begitu menginjakan kaki di bumi Lorosae. Mata-mata penuh selidik dari orang-orang di sekitar pelabuhan mengamati kami. Kami langsung naik bus ¾ atau kalo di jawa barat disebut bus elf.
Perasaan lega dan was-was campur aduk. Takut tiba-tiba kami di serang atau di tembaki. Untuk mencairkan suasana, aku coba ajak seorang anak yang jadi kenek di bus itu. “bis ini biasanya disebut apa dek ?”. anak tersebut menjawab, “ooo..ini Kolmera, om”. Aku pikir itu sebutan utk mobil jenis Colt, buatan Mitsubishi. Kelak, besoknya aku baru tau, kalau Kolmera itu nama pasar di dekat pelabuhan Dilli.
Sesampainya di tempat menginap, sebuah komplek SKB di belakang Katedral Dilli, di daerah Villa Verde, kami langsung dibagi kamar. Sekitar 12 orang per kamarnya. Tempat tidurnya bertingkat dari kayu. Hal pertama yg aku lakukan adalah segera menuju kamar mandi. 5 hari di laut tanpa mandi dan buang air besar adalah sebuah alas an yang sangat tepat utk segera menuju kamar mandi. 2 kali mandi dan 30 enit nongkrong bikin lega banget.
Abis mandi dan bebersih, sejenak menghirup udara bumi lorosae dan mengamati keadaan sekitar. Jalan-jalan dulu bentar sambil cari rokok dan Fanta merah. Fanta merah menjadi minuman favoritku sejak dari kapal kemarin. Temat penginapan ini berada di tengah-tengah pemukiman penduduk. Dan konon kabarnya merupakan daerah merah, alias tempat basis nya Fretilin. Hmm…nampaknya akan jadi menarik nih.
Sekitar pukul 5 wktu setempat, aku balik ke SKB. Tapi situasi SKB terasa sepi. Tadi nya ada ratusan orang yang akan tinggal di sini, dari berbagai ormas dan LSM. Tapi sekarang tinggal segelintir orang. Tanya ke teman, ternyata banyak yang kabur karna ada isu, malam ini akan ada penyerangan oleh Falintil ke kampung tempat kami tinggal. Ah, kemarin aja di kapal lagaknya yg paling berani. “Kita harus pertahankan NKRI!!”. “Kita jangan takut dengan mereka!”. Eh, baru dapat isu gitu langsung kabur. Di daerah konflik gini, kalo mau kabur, kabur kemana ?? Bukannya malah gak aman kalo pergi tanpa kejelasan gitu. Alhasil akhirnya malam pertama di sini, yg tinggal cuma beberapa orang. Kalau pun memang ada penyerangan malam ini, yaa..hadapi sajalah.
Kebiasaanku setiap masuk daerah baru, pasti selalu mencoba untuk kenalan dan berbaur dengan masyarakat sekitar. Dan malam ini, pertama aku coba kenalan ke rumah penjaga SKB di belakang penginapan. Sesampainya di sana, ternyata dibawah pohon besar, sudah berkumpul orang-orang Papua, Timtim, dan Ambon. Mereka duduk membentuk lingkaran, dan ditengah-tengah mereka ada beberapa botol minuman dan gelas aqua.
“Silahkan, kakak..”, aku langsung disodori minuman dalam gelas aqua oleh salah seorang dari mereka. Air dalam gelas tersebut hanya kira-kira sepertiga. Dengan naifnya, aku segera meneguk minuman tersebut. Tapi ketika mendekati mulut, tercium bau alcohol yg kuat. Aku sempat terhenti sesaat. “Minum sudah..!!”, kata orang timtim yg duduk di sebelahku. Gleeekk…pertama kali nyoba minuman keras. Rasa nya pahit campur manis gitu. Itu minuman namanya sofi, terbuat dari air aren. Jujur saja, aku terpaksa minum sofi ini. Mengingat kebiasaan saudara-saudara di daerah TImur yg gemar minum alcohol. Jika sudah jadi teman seperminuman, maka akan dianggap sodara. Orang timur jika sudah menganggap saudara, dia akan pegang teguh dan setia. Bahkan jika perlu mati demi kawan pun ditempuhnya. Terbukti beberapa ke depannya. Aku merasakan effek dari ini.
Gelas aqua itu terus berputar, botol yang berisi air sofi satu per satu kosong. Petikan gitar oleh orang makassaar yg berkumis tebal itu menambah heboh suasana. Tiba2 dari balik tembok, ada teriakan, “Hooiii…jangan ribut, anak saya sedang sakit!!”. Kami terdiam. Namun tiba2, Eurico bangun dari duduknya, mengambil pistol dari pinggangnya dan memanjat tembok itu.
“Dia orang bukan orang sini. Dia tak boleh atur-atur kami orang!! Sa mau kasih tembak dia..”.
“Sudah eurico…anaknya sakit”, cegahku sambil menarik lengan Eurico.
Sesaat Eurico tenang. Lalu dia cerita ttg dirinya. Bapaknya dari Angola, ibu nya orang Dilli. Dia pendukung kemerdekaan. Lalu dia memperlihatkan foto nya sedang berjuang di hujan dan foto keluarganya yg di Angola. Sementara senjata yg ditangannya terlupakan.
Namun tak lama kemudian dia kembali teringat. Setengah terhuyung dia kembali berusaha memanjat tembok dengan senjata di tangannya. Dia teringat kembali dengan tetangga di balik tembok yg tadi meneriaki kami. Aku dan teman-teman lain kembali menarik dia turun.
Untuk mengalihkan perhatian, kami bercanda gurau, bernyanyi, sambil minuman tetap bergulir. Tak terasa sudah lebih dari 12 botol habis. Kepalaku sudah terasa berat. Kantuk terasa. Lalu aku pamit menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku rebahan di kasur. Tak lama, kepala terasa sangat pusing, perut mual-mual. Aku langsung lari ke kamar mandi. Jekpoott!!!
Komentar Terakhir